CARA BERPAKAIAN SEORANG CALON GURU


S

alah satu fakultas yang cukup besar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Prospek utama dari fakultas ini tentu saja menjadi seorang guru, baik guru SD, SMP, dan SMA. Pastinya pembaca artikel ini ada yang berminat menjadi pendidik, bukan? Guru memiliki peran penting untuk mendidik anak muda yang akan menjadi penerus bangsa. Menjadi seorang guru tidak sesimpel mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Slogan yang melekat dalam profesi guru adalah digugu dan ditiru. Slogan ini bukanlah sebuah omong kosong. Tiap peserta didik pasti memiliki persepsi yang berbeda terhadap pengajarnya. Mereka mengamati dengan baik setiap perilaku yang dilakukan oleh gurunya, termasuk perilaku berpakaian.

            Tentunya tiap universitas memiliki ketentuan yang berbeda terkait cara berpakaian mahasiswa fakultas pendidikan. Ada universitas yang mengharuskan mahasiswanya mengenakan kemeja putih dan celana kain. Ada pula univeristas yang tidak mengatur secara detail busana yang harus dikenakan, yang terpenting adalah menggunakan pakaian sopan dan rapi. Dalam hal ini, Universitas Sanata Dharma tidak membuat aturan khusus terkait busana yang harus dikenakan mahasiswa FKIP. Pakaian sopan dan rapi sudah cukup dikenakan sebagai standar berpakaian.

            Tetapi kerap kali kita masih menemukan mahasiswa keguruan memakai busana yang dapat dikatakan “kurang sesuai”. Kurang sesuai yang dimaksud misalnya menggunakan rok di atas lutut, kaos oblong, atasan yang terlihat bagian belakangnya, kemeja yang bagian bahunya terbuka, dan sejenisnya. Hal ini bisa saja menjadi kontroversi. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa saat ini mereka belum menjadi seorang guru. Ada pula yang merasa bahwa pakaian tidak berpengaruh terhadap kemampuan berpikir, malah akan meningkatkan kepercayaan diri. Di sisi lain, banyak pula yang berpendapat pakaian sejenis itu kurang pantas dan tidak menggambarkan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

            Dalam menyikapi hal ini, kita perlu melihat, apa sebenarnya esensi dari menjadi calon guru? Berkuliah di jurusan ini sama dengan belajar menjadi seorang guru yang berkompeten, baik dalam keahlian maupun karakter. Tentunya, tiap mahasiswa memiliki preferensi sendiri dalam berpakaian. Secara umum, dapat kita bagi cara berpakaian ini menjadi pakaian terbuka dan tertutup. Mereka memiliki kebebasan penuh untuk berekspresi lewat cara berbusana di luar kampus. Tetapi situasi menjadi berbeda jika sudah masuk ke dalam lingkungan kampus. Terdapat ketentuan yang harus diikuti sebagai mahasiswa suatu universitas, dalam hal ini mengenai cara berpakaian apabila universitas memiliki aturan khusus terkait busana. Namun jika pihak universitas atau fakultas tidak menetapkan aturan tertentu, kiranya kita sebagai mahasiswa harus bisa menempatkan diri dengan tempat kita belajar.

            Kita juga perlu memosisikan diri bila menjadi pihak luar kampus. Misalnya jika kebetulan ada orang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang sedang berkunjung ke kampus. Kemudian dilihatnya mahasiswa yang mengenakan kaos oblong dan sepatu sandal. Dapat dibayangkan seperti apa persepsi yang muncul terhadap pihak universitas.

            Pada akhirnya, semua tergantung dari kesadaran dan kepekaan mahasiswa, dalam hal ini bila pihak fakultas tidak memiliki aturan khusus terkait cara berpakaian. Memang benar, kita saat ini masih seorang calon guru dan belum tentu pula akan menjadi guru. Tetapi ada baiknya bila kita mulai mempersiapkan diri dalam berbagai hal untuk menjadi seorang pendidik yang bisa digugu dan ditiru.

Komentar

Postingan Populer